Politik Yaman Pecah, Begitu Juga Medianya
Kanal Yemen Today kembali menjadi sorotan dalam lanskap media Yaman seiring meningkatnya ketegangan politik dan keamanan di Hadramaut. Stasiun televisi ini dikenal memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari dinamika kekuasaan dan konflik elite politik Yaman sejak era Ali Abdullah Saleh.
Secara historis, Yemen Today merupakan media yang sangat erat kaitannya dengan Partai Kongres Rakyat Umum atau General People’s Congress (GPC). Partai ini didirikan dan dipimpin langsung oleh mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, menjadikan kanal tersebut sejak awal sebagai corong politik utama GPC.
Pada fase awal berdirinya, Yemen Today berfungsi untuk memperkuat posisi politik Ali Abdullah Saleh di tengah persaingan internal dan tekanan eksternal. Narasi yang dibangun sejalan dengan kepentingan rezim Saleh serta jaringan loyalisnya di militer dan birokrasi negara.
Sebelum tahun 2017, orientasi editorial Yemen Today mendukung aliansi pragmatis antara loyalis Saleh dan kelompok Houthi. Aliansi ini terbentuk dalam konteks perlawanan bersama terhadap pemerintahan Abd Rabbuh Mansur Hadi dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi.
Perubahan drastis terjadi pada Desember 2017 ketika aliansi Saleh–Houthi pecah secara terbuka dan berujung pada tewasnya Ali Abdullah Saleh di Sana’a. Peristiwa ini menjadi titik balik yang membelah tidak hanya peta politik Yaman, tetapi juga wajah Yemen Today sebagai media.
Pasca-2017, Yemen Today terfragmentasi menjadi dua versi yang berbeda secara politik dan geografis. Versi pertama beroperasi di Sana’a setelah kantor pusatnya dikuasai kelompok Houthi, sementara versi kedua dijalankan dari luar negeri oleh keluarga dan loyalis Saleh.
Versi Sana’a kini sepenuhnya berada di bawah kendali Houthi dan secara konsisten menyuarakan kepentingan serta narasi kelompok tersebut. Kanal ini menjadi bagian dari mesin propaganda yang mendukung legitimasi kekuasaan Houthi di wilayah utara Yaman.
Sementara itu, versi luar negeri yang berbasis di Kairo dan Riyadh dikelola oleh faksi GPC loyalis keluarga Saleh, terutama yang dipimpin oleh Tareq Saleh. Versi ini lebih dekat dengan Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional serta memiliki hubungan erat dengan Uni Emirat Arab.
Perbedaan dua versi Yemen Today paling jelas terlihat dalam peliputan konflik di Hadramaut, wilayah strategis yang kaya sumber daya minyak dan gas. Hadramaut menjadi arena persaingan pengaruh antara Pemerintah Yaman melalui PLC dan Dewan Transisi Selatan atau STC.
Dalam narasi versi Sana’a, konflik PLC dan STC digambarkan sebagai perang saudara antar “kaki tangan asing”. Kanal ini menolak memihak kedua kubu, dengan menyebut PLC sebagai alat Arab Saudi dan STC sebagai perpanjangan tangan Uni Emirat Arab.
Yemen Today versi Sana’a menonjolkan isu kegagalan keamanan dan perebutan sumber daya alam. Pemberitaan tentang sumur minyak dan pelabuhan di Hadramaut digunakan untuk menegaskan tuduhan bahwa koalisi Saudi-UEA hanya mengeksploitasi kekayaan Yaman.
Tujuan utama narasi tersebut adalah menggambarkan wilayah selatan sebagai kawasan yang kacau dan tidak stabil. Dengan demikian, pemerintahan Houthi di utara diproyeksikan sebagai otoritas yang lebih berdaulat dan mampu menjaga stabilitas.
Sebaliknya, Yemen Today versi Kairo dan Riyadh mengambil posisi yang jauh lebih mendukung PLC. Kanal ini menekankan pentingnya institusi negara, kesatuan nasional, dan legitimasi pemerintahan yang diakui internasional.
Dalam peliputan Hadramaut, versi ini mendukung kehadiran Nation’s Shield Forces, pasukan yang dibentuk Arab Saudi. Keberadaan pasukan tersebut digambarkan sebagai upaya menyeimbangkan kekuatan dan mencegah dominasi satu faksi tertentu.
Terhadap STC, sikap Yemen Today versi keluarga Saleh cenderung kritis namun berhati-hati. Meski sama-sama menentang Houthi, kanal ini kerap menyoroti bahaya separatisme selatan jika dianggap mengancam kewenangan PLC dan keutuhan negara.
Narasi utama yang dibangun versi luar negeri berfokus pada stabilitas, pembangunan, dan tata kelola pemerintahan. Aktivitas gubernur Hadramaut, proyek infrastruktur, serta layanan publik sering ditampilkan sebagai bukti kerja nyata pemerintah pusat.
Isu minyak dalam versi ini dipresentasikan sebagai aset nasional yang harus dikelola untuk kepentingan seluruh rakyat Yaman. Pendekatan ini kontras dengan versi Sana’a yang menekankan eksploitasi dan penjarahan oleh kekuatan asing.
Perbedaan cara pandang tersebut menciptakan dua realitas media yang saling bertolak belakang. Satu versi menyoroti kekacauan akibat intervensi luar, sementara versi lainnya menampilkan upaya menjaga negara dari perpecahan.
Bagi publik Yaman, dualisme Yemen Today menjadi cerminan terbelahnya elite politik pasca-Saleh. Kanal yang dahulu satu suara kini berubah menjadi dua alat narasi yang saling bersaing memperebutkan opini publik.
Peristiwa perpecahan
Pada akhirnya, Yemen Today bukan sekadar stasiun televisi, melainkan simbol dari konflik kekuasaan di Yaman. Dua wajahnya menunjukkan bagaimana media menjadi arena utama pertarungan politik, terutama dalam menentukan masa depan Hadramaut dan keutuhan negara Yaman.
Pada akhir 2017, situasi keamanan di Sana’a memburuk drastis menyusul runtuhnya aliansi politik antara mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan kelompok Houthi. Perpecahan ini berujung pada gelombang kekerasan yang menyasar tokoh politik, militer, hingga pekerja media yang dianggap terkait dengan kubu Saleh.
Federasi Jurnalis Internasional atau International Federation of Journalists (IFJ) mengecam keras tindakan milisi Houthi yang menangkap 41 jurnalis di kantor pusat jaringan televisi al-Yemen al-Yowm di Sana’a. Penangkapan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi mengambil alih kantor media yang dikenal sebagai corong loyalis Ali Abdullah Saleh dan Partai Kongres Rakyat Umum.
Direktur IFJ untuk Hak Asasi Manusia dan Keamanan, Ernest Sagaga, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional. Ia menegaskan bahwa jurnalis tidak boleh dijadikan sandera dalam konflik bersenjata dan menyebut penahanan itu sebagai kejahatan perang yang tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.
Peristiwa ini berlangsung di tengah eskalasi kekerasan setelah Ali Abdullah Saleh secara terbuka memutuskan aliansinya dengan Houthi dan menyatakan kesiapan untuk beralih mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Langkah tersebut memicu respons keras dari Houthi yang kemudian melancarkan operasi militer di Sana’a.
Dalam beberapa hari yang sama, Ali Abdullah Saleh tewas bersama sejumlah loyalis militernya dan pendukung sipil yang dituduh membelot dari aliansi pemberontak. Rangkaian peristiwa ini menandai titik balik konflik Yaman, sekaligus memperlihatkan risiko besar yang dihadapi insan pers di tengah perebutan kekuasaan bersenjata.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar