Breaking

Gempa Suriah: Tragedi Tersembunyi di Utara

Gempa yang mengguncang Suriah utara pada Februari 2023 membawa duka yang tak kalah dalamnya dari konflik berkepanjangan di negara itu. Banyak rumah hancur bukan karena bom atau serangan militer, tetapi karena getaran dahsyat bumi yang meluluhlantakkan kawasan tersebut.

Meskipun demikian, sorotan media internasional sebagian besar tertuju pada korban gempa di Turki, sementara dampak di Suriah sering terabaikan. Hal ini terjadi karena nuansa konflik yang masih membayangi pemberitaan di wilayah utara Suriah.

Jumlah korban jiwa akibat gempa tercatat sekitar 59.000 orang, angka yang tragis namun jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan korban perang Suriah sejak 2011, yang mencapai lebih dari setengah juta jiwa.

Perbandingan antara korban gempa dan korban perang sering dilakukan, meski konteks dan durasi keduanya sangat berbeda. Gempa terjadi dalam hitungan hari, sementara perang berlangsung selama 15 tahun.

Kehancuran instan yang ditimbulkan gempa memberikan dampak psikologis yang serupa dengan serangan udara bertahun-tahun. Warga yang selamat dari konflik bersenjata, banyak yang kehilangan rumah dan keluarga dalam sekejap.

Wilayah yang terdampak gempa sebagian besar adalah Suriah utara, yang juga menjadi rumah bagi jutaan pengungsi perang. Ironisnya, mereka yang sebelumnya lolos dari bahaya senjata kini menghadapi ancaman alam.

Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah ada. Rumah sakit dan fasilitas medis yang sebelumnya rusak akibat perang kini harus menampung ribuan korban gempa tanpa perlengkapan yang memadai.

Selain itu, gempa menciptakan gelombang pengungsian baru di dalam negeri. Banyak warga terpaksa tinggal di tenda, kontainer, atau bangunan sementara, menambah beban kehidupan mereka yang sudah rapuh.

Proses rekonstruksi pun berjalan bersamaan dengan upaya pemulihan pasca-konflik. Pemerintah Suriah dan organisasi kemanusiaan berusaha memperbaiki infrastruktur dan rumah yang hancur secara bertahap.

Di Turki, rekonstruksi berlangsung dengan cepat dan mendapat sorotan luas, sementara Suriah harus menghadapi tantangan ganda: membangun kembali rumah sekaligus mengelola dampak perang yang masih terasa.

Secara statistik, jumlah korban perang jauh lebih besar, tetapi trauma gempa dirasakan intens karena sifatnya yang tiba-tiba dan menghancurkan. Bagi warga setempat, momen ini seakan menyatukan rasa takut dan kehilangan selama bertahun-tahun konflik.

Beberapa wilayah, terutama di Aleppo dan Idlib, mengalami kerusakan berat. Banyak bangunan yang sudah rapuh akibat perang runtuh saat gempa, menambah daftar rumah yang tidak lagi layak huni.

Layanan publik juga terdampak. Listrik, air bersih, dan komunikasi terganggu di banyak kota, sehingga bantuan kemanusiaan sulit menjangkau korban secara cepat.

Dalam konteks sosial, gempa memperkuat solidaritas masyarakat. Warga saling membantu membangun kembali rumah sementara, mendirikan dapur umum, dan menyalurkan bantuan ke keluarga yang terdampak.

Organisasi internasional yang biasanya fokus pada perang kini harus menyesuaikan diri dengan bencana alam. Bantuan medis dan logistik menjadi sangat krusial di tengah keterbatasan akses ke wilayah-wilayah yang rusak parah.

Gempa juga menyoroti risiko bangunan yang tidak tahan gempa. Banyak rumah yang dibangun dengan bahan seadanya selama konflik, sehingga tidak mampu menahan getaran besar.

Secara psikologis, warga merasakan trauma ganda. Mereka yang sudah kehilangan anggota keluarga akibat perang kini harus menghadapi kehilangan baru akibat gempa.

Bagi banyak pengungsi, gempa terasa seperti "perang tanpa senjata." Kehancuran yang cepat membuat mereka kembali menghadapi ketidakpastian, meskipun ancaman tidak datang dari manusia.

Meski skala korban berbeda, tragedi gempa dan konflik memiliki persamaan: keduanya merenggut kehidupan, memutuskan tempat tinggal, dan memaksa warga hidup dalam ketidakpastian panjang.

Suriah pelan-pelan bangkit, tetapi jalan menuju pemulihan masih panjang. Gempa ini menjadi pengingat bahwa negara yang sudah lelah akibat konflik juga rentan terhadap bencana alam.

Dalam perspektif global, perhatian dunia sering terfokus pada angka korban perang atau bencana di negara lain. Suriah utara menjadi contoh bagaimana tragedi dapat luput dari sorotan meski dampaknya sama menghancurkan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.